We are thinkers.
Ada satu kalimat yang terus bersemayam dalam kepala saya sejak mengunjungi Apartheid Museum di South Africa,
“WE ARE THINKERS”
Semakin saya mengingatnya, semakin saya merasa kalimat itu bukan sekadar tentang kecerdasan manusia. Jauh lebih mendasar, ia berbicara tentang salah satu hakikat kita sebagai manusia yaitu kemampuan untuk menyadari bahwa dunia tidak harus selalu berjalan sebagaimana adanya.
Kita adalah makhluk yang bertanya. Mempertanyakan apa yang dianggap benar, mengingat apa yang berusaha dilupakan, dan membayangkan sesuatu yang belum pernah ada. Dari sanalah muncul kemungkinan bahwa apa yang hari ini terasa biasa, sebenarnya bisa menjadi sesuatu yang berbeda.
Mungkin, di situlah akar kemerdekaan. Sebab sebelum manusia membebaskan diri dari sistem yang menindas, ia harus terlebih dulu mampu membayangkan kehidupan di luar sistem tersebut. Berani mengatakan ini tidak adil, ini tidak semestinya begitu, dan kita bisa hidup dengan cara yang lain.
Pada akhirnya, kemerdekaan adalah persoalan menjaga kemampuan manusia untuk berpikir, mempertanyakan, dan menentukan kehidupannya sendiri. Ketika ketimpangan dianggap biasa, kita bertanya. Ketika kekuasaan menjauh dari mereka yang terdampak, kita bertanya. Ketika ruang hidup, suara, dan martabat manusia dipertaruhkan, kita menolak menganggapnya sebagai sesuatu yang tak terhindarkan.
berpikir adalah salah satu cara manusia mempertahankan kebebasannya. Ia membuat kita tidak sepenuhnya tunduk pada keadaan, dan membuka kemungkinan bahwa dunia dapat dibentuk dengan cara yang berbeda.
Dua hari lalu, ketika kita kembali merayakan kemerdekaan, saya teringat lagi pada kalimat itu.
Mungkin pertanyaannya bukan hanya, apakah kita telah merdeka?
tapi juga,
Apakah kita masih bebas untuk berpikir?
Bebas untuk mempertanyakan?
Bebas untuk mengingat?
Bebas untuk membayangkan kehidupan yang berbeda?
Sebab selama manusia masih mampu membayangkan kemungkinan lain, dunia tidak pernah benar-benar selesai sebagaimana adanya.
Manusia yang merdeka berarti terus menjaga kemampuan itu. Because, we are thinkers. Dan rakyat yang merdeka adalah rakyat yang tidak menyerah untuk berpikir.
Komentar
Posting Komentar